Jumat, 17 Desember 2010

Belajar di Tengah Atap dan Dinding Berlubang

DUMAI (RP) – Tidak meratanya pembangunan di Kota Dumai ini sangat terlihat jelas.
Tidak hanya pembangunan fisik seperti jalan dan bangunan saja, namun dalam pembangunan ilmu pengetahuan terhadap masyarakat di pinggiran Kota Dumai juga dinilai tidak berjalan dengan baik.
Jika di pusat Kota Dumai berdiri sekolah-sekolah megah dan bertingkat, mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menegah Atas (SMA), hal tersebut tidak dirasakan oleh masyarakat Dumai di pinggiran Kota.
Meski Pemerintah Kota Dumai meningkatkan anggaran untuk bidang pendidikan tiap tahun mencapai 20 persen dari APBD, namun masih ada pelajar yang menimba ilmu tidak di tempat yang layak. Sebab, mereka terpaksa belajar di gedung yang reyot jauh dari kemewahan.
Hal ini dialami siswa dan siswi SMP Negeri 12 Gurun Panjang  Kecamatan Bukit Kapur. Kondisi bangunan yang sudah tidak layak untuk digunakan tersebut jelas sangat mengganggu proses belajar mengajar, apalagi bila hujan turun.
Gedung sekolah ini terbuat dari papan, yang hampir seluruhnya reyot dan lapuk. Bahkan, sekolah ini lebih pantas disebut gubuk. Parahnya lagi, tak hanya dinding yang dipenuhi lubang, atap kelas juga penuh lubang.
Akibatnya, bila hujan turun, kegiatan belajar mengajar terganggu. Sebab, tetesan air masuk ke dalam kelas, baik dari atas maupun dari dinding. Bahkan, lantainya pun berlumpur, karena sudah dipenuhi gumpalan tanah dari pecahan semenisasi lantai sekolah.
‘’Belum ada perhatian pihak pemerintah kota maupun perusahaan yang berdiri di sekitar Kecamatan Bukit Kapur.
Padahal, sudah disampaikan,’’ ujar A Rahman, Wakil Kepala SMP Negeri 12 Gurun Panjang, Kamis (16/12) kepada wartawan.
Menurutnya, sejak berdiri pada 2000 lalu, sekolah ini berstatuskan lokal jauh dari SMP Negeri 5 atas nama pengelolaan LMPK Gurun Panjang. Pada 2010 lalu, diangkat menjadi sekolah negeri.
Sehingga, siswa memiliki standar nilai kelulusan yang memadai, serta memiliki dua gedung belajar dari PT CPI dan dua gedung dari Pemprov Riau.
Sedangkan dari Pemerintah Kota Dumai belum pernah mendapatkan bantuan, selain kenaikan status dari swasta menjadi negeri.
Padahal, ujarnya, jumlah siswa yang belajar cukup banyak, yakni hampir 300 siswa dengan enam lokal. Mengatasi hal itu, pihaknya akan membangun tiga ruang belajar lagi dengan cara gotong-royong untuk menambah kelas. Sebab, kelas di sekolah itu tak kondusif lagi untuk dijadikan kegiatan belajar mengajar.
“Walaupun sudah dibahas dalam Musrembang tingkat kelurahan, kecamatan, bahkan tingkat kota, realitanya hingga kini siswa SMPN 12 masih saja belajar di ruangan reot,” ujarnya.***

Sumber : Riau Pos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar